Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 November 2011

MASALAH EKONOMI DAN KEBIJAKAN PEMERINTAH

PENDAHULUAN

            Kondisi perekonomian yang sangat mendukung mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia, membutuhkan perhatian dari pemerintah. Sejak jatuhnya rezim orde baru pada tahun 1998, Indonesia telah memasuki sebuah proses transisi dari sebuah system yang otoriter kesebuah system yang lebih terbuka, partisipatif, dan demokratis. Sementara banyak hal telah diperbaiki, dan keterbukaan telah menjadi ciri utama dari system politik kita sekarang, periode transisi ini juga telah ditandai oleh kegelisahan, konflik-konflik dan ketidak stabilan. Banyak hal lain tetap tidak berubah. Mentalitas birokrasi pada umumnya tetap sama. Korupsi tetap menjadi masalah besar. Tempat berlangsungnya penyalah gunaan kekuasaan bahkan telah meluas, mencakup partai-partai politik, pusat–pusat  kekuasaan baru di Indonrsia. Jika tertentu di berikan perhatian, masalah-masalah ini dapat menghambat. Konsolidasi demokrasi kita dan bahkan dapat mengancam demoklrasi baru  kita itika itu sendiri.



  

PEMBAHASAN


A.    Masalah Ekonomi
1.       Penganguran dan Kemiskinan
Apa yang menjadi persoalan kursial bagi rakyat selama pemerintah sekarang ini? Mengapa klaim pemerintah atas pertumbuhan yang relative moderat tidak berhasil mengatasi masalah ekonomi rakyat sekarang ini? Jawabannya tidak lain adalah masalah ekonomi sebagai persoalan pokok bagi rakyat, terutama ketersediaan lapangan kerja, ditambah dengan masalah pengangguran yang masih tinggi dan meluas. Masalah lain yang berasosiasi dengan pengangguran tersebut adalah masalah kemiskinan.
  Dua masalah ini gagal diselesaikan oleh pemerintah sampai tahun ketiga, sehingga hasil-hasil polling dari beragam lembaga memperlihatkan masalah ekonomi sebagai persoalan paling kritis bagi rakyat. Karena itu, tidak aneh jika popularitas pemerintah terus merosot di hadapan rakyat karena masalah ekonomi ini tidak berhasil diatasi dengan baik. Masalah ekonomi dirasakan berat oleh rakyat terutama karena kebijakan ekonomi tidak menyentuh ke sudut-sudut paling kritis, terutama di pedesaan. Kesenjangan yang sangat besar sebagai hasil dari rezim lama tetap saja berjalan sebagaiman biasanya, karena tidak ada kebijakan yang secara khusus untuk memeratakan pandapatan masyarakat.
Pesanan swasta tidak bisa memaksimalkan karena berhadapan dengan ketidakpastian sosial politik dan hukum. Gabungan dari kekurangan investasi publik dan investasi swasta dibidang infrastruktur menyebabkan pengembangan infrastruktur selama tiga tahun terakhir ini macet. Banyak peluang investasi dan perbaikan ekonomi yang ada tidak dapat dimanfaatkan secara optimal, bahkan sering menemui kendala yang disebabkan karena permasalahan infrastruktur seperti jembatan, jalan, pasar, listrik, telekomunikasi, pelabuhan, bandara, dan lain sebagainya. Kondisi infrastruktur yang kurang baik ini mengakibatkan permasalahan ekonomi rakyat, terutama masalah akses rakyat terhadap ekonomi, masalah pemerataan, dan persoalan kesenjangan yang masih tinggi.
Untuk mengatasi masalah utama dari permasalahan itu, kendala di APBN harus diselesaikan. Masalah investasi publik dalam bidang infrastruktur adalah masalah pada sektor pemerintah. Jika kebijakan pada sektor pemerintah selesai, maka potensi investasi swasta bisa digali lebih jauh. Investasi infrastruktur sebenarnya dilakukan oleh dua pihak yaitu pemerintah dan swasta. Pihak swasta menjadi pelengkap yang semakin penting peranannya. Namun, dalam kenyataan, masalah infrastruktur dan permasalahan kebijakan ekonomi lainnya masih menjadi ganjalan bagi perbaikan ekonomi rakyat. Meskipun ekonomi tumbuh diatas 5%, tetapi dasar ekonomi tidak berhasil diatasi, yakni masalah pengangguran dan kemiskinan.
Sebab-sebab Langsung Kemiskinan

Investasi dann pertumbuhan yang rendah















Porsi kaum miskin dalam pertumbuhan lebih kecil







Rusaknya akses untuk mendapatkan pelayanan public






Kurangnya kesehatan dan pendidikan
-          Kebijakan ekonomi/instituisonal yang tidak bagus akibat  “Vested interests”
-          Alokasi pengeluaraan/investasi public yang terdistrorsi
-          Akumulasi modal manusia yang rendah
-          Kepentingan korporat elit mencengkram hukum dan mendistorsi pengambilan kebijakan
-          Tidak adanya aturan hukum dan hak kepemilikan
-          Hambatan pemerintah terhadap pembangunan sektor swasta.

-          Negara dicengkram oleh kaum elit kebijakan pemerintah dan alokasi sumber daya
-          Regresifitas pajak sogokan atas perusahan kecil dan kaum miskin
-          Distribusi pendapatan yang timpang

-          Sogokan menyebabkan pajak regresif dan merusakan akases serta pelayanan dasar dalam hal kesehatan, pendidikan dan keadilan.
-          Pencengkraman politik oleh kaum elit dalam akses terhadap pelayanan tertentu
-          Akumulasi modal yang rendah
-          Kualitas pelayanan pendidikan dan kesehatan yang lebih rendah kualitasnya
Sumber: the quality of growth: kualitas pertumbuhan; world bank 2000

B.     Kebijakan Pemerintah
1.       Kebijakan Ekonomi dan Bisnis
Sejak ditimpa krisis-krisis ekonomi dan keuangan di tahun 1998, Indonesia masih belum pulih seutuhnya. Kondisi-kondisi ketidakstabilan dan kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak konsisten, begitu juga dengan persaingan yang tumbuh dari ekonomi-ekonomi industri baru di Asia, membuat Indonesia sebagai tempat yang kurang diminati untuk investasi. Kurangnya kemajuan di sektor riil telah menyebabkan pembengkakan pengangguran, yang lebih jauh lagi memperburuk ketidakstabilan di negeri ini. Situasi ini dipersulit oleh hutang kita yang besar, baik hutang pemerintah maupun swasta. Institut ini peduli pada bagaimana kebijakan-kebijakan ekonomi pemerintah diformulasikan dan dilaksanakan di dalam usaha untuk menghidupkan kembali perekonomian Indonesia dan untuk memperbaiki kualitas hidup dari seluruh masyarakat Indonesia. Bidang-bidang kepedulian ini meliputi kebijakan-kebijakan fiskal dan non fiskal, yang termasuk di dalamnya anggaran Negara, investasi, pembangunan manusia, industri dan kebijakan-kebijakan sektor riil lainnya.
2.       Kebijakan Fiskal (Fiscal Policy)
Kebijakan fiskal adalah pengeluaran pemerintah dan pemasukan perpajakan dalam satu tahun anggaran atau lebih. Apabila pengeluaran pemerintah lebih besar dibandingkan pemasukan (Pendapatan Negara), maka akan menyebabkan kekurangan dana yang disebut devisit. Untuk mengatasi devisit anggaran tersebut, pemerintah meminjam uang dari bank sentral untuk menutupnya. Dari sisi lain, bank sentral itu sendiri meminjam dana dari pasar keuangan, misalnya dengan menerbitkan surat berharga. Sebagai akibat dari kebijakan tersebut., akan menurunkan penawaran uang pada suatu perekonomian dan selanjutnya akan mempengaruhi harga sekuritas di pasar modal. Guna meningkatkan pendapatan, pemerintah dapat pula meminjam dana dari pasar modal dan menaikkan tariff pajak. Implikasinya apabila tarif pajak sekuritas yang dibebankan terlalu tinggi, maka harga sekuritas akan naik pula. Kebijakan tersebut mendorong transaksi pasar modal menjadi turun, dan selanjutnya mengakibatkan kenaikan tingkat inflasi.
Apabila pemasukan lebih banyak daripada pengeluaran maka terjadi surplus. Pemerintah menggunakan kelebihan dana tersebut guna melunasi kewajibannya. Hal ini akan meningkatkan penawaran sirkulasi uang dan sebagai akibatnya harga sekuritas naik. Perlu diketahui bahwa biasanya hal tersebut jarang terjadi hampir di seluruh Negara-negara di dunia.

KESIMPULAN
  
            Negara pada hakekatnya telah gagal menjalankan fungsi-fungsi pokoknya, setidaknya dalam melihat persoalan-persoalan di depan, dapat di identifikasi beberapa kegagalan Negara. Pertama, Negara tidak mampu menyediakan sarana yang cukup efektif bagi perwakilan kepentingan-kepentingan yang beragam. Kedua, akibat dari kegagalan ini Negara tidak mampu menjaga keamanan social dan lebih memilih untuk melakukan kontrol yang keras dengan memanfaatkan aparatur keamanan.
            Kekuatan moral memang kini telah banyak menggantikan fungsi dan peran dari Negara. Untuk menopang sistem esploitatif ini dibutuhkan dukungan dari berbagai aparatur maupun organisasi masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA


Eko Prasetyo, Islam Kiri Melawan Kapitalisme Modal Dari Wacana Menuju Gerakan, Yogyakarta: Pustaka Fajar, 2002

Sunariyah, Pengantar Pasar Modal, Yogyakarta 2000

www.geogle.com : Pengangguran dan Kemiskinan
read more...

Senin, 14 November 2011

ETOS KERJA

ETOS KERJA

Rosululloh bersabda :










Artinya:  
“ Andainnya seseorang mencari kayu bakar dan dipukulkan di atas punggungnya. hal itu lebih baik dari pada kalau ia meminta-minta pada seorang yang kadang-kadang di beri, kadang pula ditolak.” (diriwayatkan oleh bukhori dan muslim)

Dengan pernyataan hadist ini, maka tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk menganggur. Konsekuensi logis dari ajaran ini mempunyai makna siapapun yang tidak bekerja.  hidupnya tidak produktif dan tidak punya arti.

  1. Pengertian
Etos kerja adalah cara pandang seseorang bahwa bekerja itu bukan saja untuk memuliakan dirinya, menampakan kemanusiaannya, Tetapi,  juga sebagai suatu dari amal sholeh dan oleh karenanya mempunyai nilai ibadah yang sangat luhur.

  1. Ciri-ciri etos kerja muslim
Bekerja itu merupakan bentuk ibadah, suatu panggilan dan perintah allah yang akan memuliakan dirinya, memanusiakan dirinya sebagai bagaian dari manusia pilihan (khoiru ummah)
Ciri-ciri etos kerja seorang muslim yaitu:
1.      Memiliki jiwa kepemimpinan
Seorang pemimpin bukan tipikal pengekor, terima jadi. Karena sebagai seorang pemimpin dia sudah di latih untuk berfikir kritis analitis karena dia sadar bahwa seluruh hidupnya akan dimintakan pertanggungjawaban di hadapan Allah.
2.      Selalu berhitung
Sebagaimana rosululloh bersabda dengan ungkapan yang paling indah:
“ Bekerjalah untuk duniamu,seakan-akan engkau akan hidup selama-lamanya dan beribadahlah untuk akherat seakan-akan engkau akan mati besok “
Umar bin khottob pernah berkata:  “Maka hendaklah kamu menghitung dirimu sendiri, sebelum datang hari dimana engkau yang akan diperhitungkan.”
3.      Menghargai waktu
Waktu merupakan rahmat yang tiada terhitung nilainya. Baginya maka waktu merupakan rasa tanggung jawab yang sangat besar, sehingga sebagai konsekuensi logisnya dia menjadikan waktu sebagai wadah produktivitas sebagaimana tersurat dalam Al-Ashr:  1-3.
4.      Tidak pernah puas berbuat kebaikan
Karena merasa puas di dalam berbuat kebaikan, adalah tanda-tanda kematian kreativitas. Dengan semangat ini, seorang muslim selalu berusaha untuk mengambil posisi dan memainkan perannya yang dinamis dan kreatif.
5.      Hidup berhemat dan efisien
Berhemat bukanlah dikarenakan ingin memupuk kekayaan, sehingga melahirkan sifat kikir individualitas. Tetapi berhemat dikarenakan ada satu reserve, bahwa tidak selamanya waktu itu berjalan lurus sehingga berhemat berarti mengestimasikan apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang.
6.      Memiliki jiwa wiraswasta
Sungguh sangat bijak apabila kita mau menyimak dan menghayati dengan penuh rasa tanggung jawab akan sabda Rasulullah yang mengatakan :”innallaha yuhibul mukminal muhtarif (sesungguhnya Allah sangat cinta kepada orang mukmin yang berpenghasilan).
7.      Memiliki insting bertanding dan bersaing
Semangat bertanding merupakan sisi lain dari citra seorang muslim yang memiliki semangat jihad, sebagai pembuktian Firman Allah swt Q.S. : 2 : 148
“Setiap umat ada kiblatnya, maka hendak nyalah kamu sekalian berlomba-lomba dalam kebaikan yang penuh dengan gelimang prestasi dimanapun  kamu berada sudah dipastikan Allah akan mengumpulkan kamu semuanya.”
8.      Keinginan untuk mandiri
Semangat jihad ini melahirkan sejuta kebahagiaan yang diantaranya iualah kebahagiaan untuk memperoleh hasil dan usaha atas karsa dan karya yang dibuahkan dari dirinya sendiri. Dia merasa risi apabila memperoleh sesuatu secara gratis. Kemandirian adalah lambang perjuangan sebuah semangat jihad yang sangat mahal harganya.
9.      Haus untuk memiliki sifat keilmuan
Tidak pantas seorang muslim itu menjadi orang yang bodoh karena buta hatinya untuk menerima ilmu dan hikmah. Padahal betapa besarnya penghargaan dan reward (pahala) yang diberikan Allah kepada mereka yang haus dengan Ilmu.
Lagi pula Allah mempertanyakan kepada diri kita tentang kualitas dan kemuliaan manusia yang berilmu dan yang tidak berilmu itu tidak akan pernah sama. (Q.S. : 39 : 9) bahkan dia sadar bahwa Allah akan engangkat orang-orang yang beriman dan berilmu lebih tinggi beberapa derajad dari mereka yang tidak mempunyai ilmu.
10.  Berwawasan makro universal
Dengan memiliki wawasan yang luas. Seorang muslim menjadi manusia yang bijaksana. Mampu mempertimbangkan, yang tepat, terarah dan benar.
11.  Memperhatikan kesehatan dan gizi
Sabda Rasulullah
“Sesungguhnya jasadmu mempunyai hak atas dirimu.”
Mana mungkin kita akan mempunyai kekuatan apabila tubuh tidak kita pelihara dengan baik.
12.  Ulet, pantang menyerah
Sikap istikomah, kerjaq keras, tangguh dan ulet akan tumbuh sebagai bagian dari kepribadian diri kita seandainya kita mampu dan gemar hidup dalam tantangan. Kalau tidak ada tantangan hidup menjadi monoton, jenuh dan tentu saja prestasi akan menurun.
13.  Berorientasi pada produktivitas
“Sesungguhnya kemubaziran itu adalah benar-benar syaiton:  (Q.S:  26-27)
Dengan penghayatan ini tumbuhlah sikap yang konsekuen dalam bentuk perilaku yang selalu mengarah pada cara kerja yang efisien serta mengarah kepada nilai-nilai produktif.

  1. Terbentuknya Etos Kerja Islami

Salah satu karakteristik yang melekat pada etos kerja manusia, ia merupakan pancaran dari sikap hidup mendasar pemiliknya terhadap kerja. Manusia adalah makhluk yang diarahkan dan terpengaruh oleh keyakinan yang mengikatnya.salah atau benar, keyakinan keyakinan tersebut niscaya mewarnai perilaku manusia dalam kontek ini selain dorongan kebutuhan dan aktualisasi diri, nilai nilai yang di anut,keyakinan atau ajaran agama tentu dapat pula menjadi sesuatu yang berperan dalam proses terbentuknya sikap hidup.berarti kemunculan etos kerja  manusia didorong oleh sikap hidup sebagai sikap hidup yang mendasar di sertai kesadaran yang mantap maupun kurang mantap sikap hidup yang mendasar itu menjadi motivasi yang membentuk karakter, kebiasaan atau budaya kerja tertentu.
Pardigma terbentuknya etos kerja islami. Etos kerja islami terpancar dari sistem keimanan/ aqidah islam berkenaan dengan kerja. Aqidah itu terbentuk oleh ajaran wahyu dan akal yang bekerja sama secara proporsional menurut fungsi masing-masing.

  1. Indikasi-indikasi orang beretos kerja tinggi pada umumnya memiliki sifat-sifat:

1.      aktif dan suka bekerja keras
2.      bersemangat dan hemat
3.      tekun dan professional
4.      efisien dan kreatif
5.      jujur, disiplin, dan bertanggung jawab
6.      mandiri
7.      rasional serta mempunyai visi yang jauh kedepan
8.      percayadiri namun mampu bekerjasama dengan orang lain
9.      sederhana, tabah dan ulet
10.  sehat jasmani dan rohani

   

Daftar pustaka
Tasmara, Toto. 1995, Etos Kerja Pribadi Muslim, Dana Bakti Wakaf, Yogyakarta.
Asifudin, Ahmad Janajn, 2004, Etos Kerja Islami, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.
read more...